19 Agustus 2009

Marhaban Ya Ramadhan

Jika pada hari-hari biasa kita senantiasa melampiaskan, atau paling tidak mengendalikan “Ya”, maka pada Bulan Puasa kita melatih “tidak”. Tentu saja bukan hanya tidak makan, tidak minum, dan tidak banyak omongin orang, tapi termasuk tidak ramai, tidak ribut, tidak gegap gempita, serta tidak berlebihan mempersiapkan makanan untuk berbuka puasa.

Puasa sejatinya merupakan perjalanan menuju kesunyian, lalu menghayatinya, kemudian menemukan nikmatnya. Mereka yang menyambut Ramadhan dengan menyelinap memasuki bilik kesunyian, mungkin akan belajar membuka telinga batin sehingga mereka mendengar suara-suara setan dan iblis. Kalau suara Allah, para Rasul dan Nabi, mungkin kita (terutama saya) kurang cukup bersih untuk menangkap frekuensi itu. Alhasil mendengar suara setan saja Alhamdulillah rasanya.

Menjelang hari pertama Ramadhan ini saya mendengar suara setan, sayup-sayup ia bersuara berikut dialog antara setan
Setan 1 :“Baru mau Puasa aja kok, suasananya lebih ribut
dibanding bukan bulan Puasa, puasa apaan tuh?”
Setan 2 :“Aneh, puasa kok anggaran belanja makanan dan minuman keluarga malah lebih meningkat, katanya ingin merasakan segala akibat lapar seperti sesamanya yang kurang beruntung”
Setan 3 :“Bersyukurlah saudara-saudaraku, bukankah itu berarti kita telah sukses menjalankan visi-misi kita”
Setan 1 :“Untuk melakukan keributan yang merusak kekhusyu-an Ramadhan, manusia gak perlu kita provokasi kita, manusia itu kini sudah cerdas, jika sekedar mengotori hidupnya sendiri maka sudah jauh melebihi target maksimal nenek moyang kita”
Setan 3 :“Kalau bicara soal kecerdasan menurut saya manusia itu tolol, buktinya; untuk tidak mencuri, mabuk, berzina mereka perlu Kitab Suci Allah, mana bisa mereka menemukan sendiri dengan nurani dan akal sehatnya“
Setan 2 :Betul itu, malahn untuk tidak korupsi, dan tidak menindas rakyat mereka membuat konstitusi dan hokum formal, itupun belum tentu mereka patuhi”
Setan 1 :“Iya ya. Mereka sudah matang dan dewasa serta canggih menjalankan sitem dan budaya penghancur kehidupan anak cucu mereka sendiri. Meskipun Tuhan mengizinkan ada tsunami terjadi, meskipun tanah bumi diretakkan dan disemburkan lumpur yang dahsyat, meskipun gempa disebar, manusia sudah terlanjur tidak memiliki alat di dalam diri dan system kebersamaannya untuk belajar dari bencana-bencana itu. Setiap bencana hanya melahirkan; Politisasi bencana, Komoditi bencana, dan wisata bencana. Mereka sesungguhnya tidak mengerti Ramadhan …….”

Marhaban Ya Ramadhan


Saya termangu bisu, dan menjadi ragu. Itu semua suara setan atau malaikat, atau bahkan isyarat dari Tuhan sendiri?
(dikutip dari Jejak Tinju Pak Kiai-Emha Ainun Nadjib, dengan perubahan semau saya, maaf ya, Cak Nun)

Kang Sofyan beserta keluarga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada anda yang beragama islam. Mohon dimaafkan segala kesalahan yang telah kang Sofyan perbuat, baik yang di sengaja ataupun yang tidak di sengaja.

Semoga dengan datangnya Ramadhan tahun ini, kita bisa menjadi insan yang bertakwa. amiin.

2 komentar:

  1. mohon maaf lahir dan batin, selamat menunaikan ibadah puasa.

    BalasHapus
  2. salam sobat
    nice post
    untuk renungan di bulan ramadhan ini sobat

    marhaban ya ramadhan
    selamat menunaikan ibadah puasa.

    BalasHapus

Apapun dan bagaimanapun komentar yang anda tulis, merupakan bentuk apresiasi terhadap apa yang saya tulis. dan saya sangat menghargainya