Gaptek? Belajarlah IPTEK!



"Hare gene masih gaptek? Cape deh!". Itulah celetukan gaya anak-anak zaman kiwari. asal nyeplos, polos, tanpa menghiraukan perasaan orang lain, Anak-anak kita, kini kerap memanfaatkan teknologi; Google, Yahoo, Blog, Wikipedia, Youtube, Facebook, serta nama-nama lain dalam teknologi Web 2.0 saat ini seolah bagian dari keseharian mereka, anak-anak kita. Meski hanya seharipun, tanpa telepon genggam mereka merasakan ada sesuatu yang hilang.

Mungkin dalam pandangan mereka, dunia serasa semakin kecil, karena kini memang dunia hampir tergenggam di tangannya. Cukup lewat jari, segalanya pun begitu mudah dan ringkas tersaji di depan mata. SMS, e-mail, kamera, MP3/MP4 Player, Bluetooth, 3G, GPRS, GPS, dan banyak lagi yang membuat mereka sangat mudah menjalani hari-harinya.

Mereka membangun jaringan sosial sambil menyeruput segelas coklat atau kopi panas di warnet atau kafe-kafe hotspot. Interaksi sosial pun mereka lalui dengan menggunakan teknologi. Kafe bukan lagi milik orang dewasa, melainkan "milik bersama" mereka, di situlah mereka kerap berkenalan, berbincang, dan berbagi.

Hal ini, mungkin tak sempat atau tak pernah kita bayangkan sebelumya. Tapi seperti itulah kiranya sebagian besar wajah generasi muda kita saat ini.

Mereka terlahir dan hidup dalam dunia digital, dunia yang diadopsi sebagai bagian keseharian, gaya belajar, serta berinteraksi sosial. Mereka adalah penduduk asli dunia digital. Melalui naluri alamiahnya, bisa dengan mudah mencari berbagai informasi, belajar, dan memecahkan masalahnya sendiri, serta menciptakan berbagai inovasi kreatif dengan segala pernak-pernik teknologi.

Mereka nikmati musik secara digital, bermain pun secara online. Mereka cenderung menyukai komputer, gambar, animasi, video, dan terakhir barulah dokumen berbentuk teks.

Mereka pun menghayati perannya sebagai multi tasking. Mereka menyukai pekerjaan yang dilakukan dengan cara dan dalam waktu bersamaan. Sementara kita, orang dewasa, adalah digital immigrants.

Yang menjadi persoalan adalah, betapapun mereka akrab dengan dunia digital, mereka hanya terbatas pada pengguna, bukan penghasil teknologi itu sendiri.



Lalu siapa pemuda Luar Biasa Yang Mengubah Dunia, dan dinikmati oleh anak-anak kita; 
Mark Zuckerberg (asal AS) Ketika menciptakan situs jejaring sosial Facebook, Mark Zuckerberg baru berusia 19 tahun. 
Steve Shih Chen (asal Taiwan-AS), Chad Hurley (asal AS) Keduanya adalah pencipta dari situs "berbagi video online", YouTube. Ketika itu, Chad berusia 28 tahun dan Steve 27 tahun.
Jerry Yang (asal Taiwan-AS) dan David Filo (asal AS) kedua orang ini menemukan Yahoo!, Saat itu, Jerry berusia 26 tahun dan Filo 28 tahun.
Matt Mullenweg (asal AS) pencipta situs penyedia blog gratisan: WordPress. Ia mulai baru berusia 19 tahun ketika mulai menciptakan cikal bakalnya.
Tom Anderson (asal AS) merilis MySpace saat berusia kurang dari 30 tahun
Blake Aaron Ross (asal AS) menciptakan Mozilla, Saat itu, usia Blake baru 19 tahun!
Pierre Omidyar (asal Perancis-AS) merilis eBay Saat itu, usianya 28 tahun.
Larry Page dan Sergey Brin (keduanya berasal AS) merilis Google Saat itu, mereka baru berusia 25 tahun dan 24 tahun.


Merekalah 8 pemuda luar biasa pengubah dunia, dan anak-anak kita "hanyalah pengguna dan penikmatnya" megapa?


Salah satu faktor penyebabnya mungkin kita, sebab dalam benak kita Ilmu Pengetahuan dan teknologi itu adalah suatu hal yang serius dan membosankan, padahal jika kita pernah berkunjung ke Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP IPTEK), hal tersebut tidaklah benar, 


Berawal dari ide Kementrian Riset dan Teknologi yang mengemban misi mencerdaskan masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1991 bangunannya khas dan memberi kesan berbeda dengan bangunan disekitarnya, disini tersedia sarana pendidikan luar sekolah yang menyampaikan informasi perkembangan IPTEK.

Pusat Peragaan IPTEK bertujuan untuk menggugah kesadaran dan menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap peranan iptek dalam kehidupan modern, mendorong timbulnya rasa keingintahuan masyarakat terhadap iptek, dan memberikan gambaran adanya antara hasil pengembangan iptek dengan kemajuan dunia industri dalam kehidupan sehari-hari. serta menyadarkan masyarakat mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia secara sangat cepat. Arah perkembangan ini harus disadari agar generasi penerus dapat mengikutinya untuk kemudian maju bersama perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.

Di dalam bangunan seluas 24.000 m² di atas lahan 42.300 m², disajikan berbagai peragaan tentang apa, mengapa, dan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan dan dimanfaatkan untuk kehidupan manusia.

Jika kita beserta keluarga terutama anak-anak berkunjung kesana. daripada pergi ke Mall yang kini menjadi favorit kebanyakan keluarga di kota-kota besar, lebih baik kesana, karena disana anak-anak dapat belajar tentang IPTEK, dengan mencoba berbagai peraga yang dibuat sangat menyenangkan dan menghibur. Momok mengenai ilmu pengatahuan dan teknologi yang serius dan membosankan terbantahkan. Anak-anak dapat mengembangkan motivasi dalam memahami prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mudah dan berkesan

Di Museum yang terletak di Jakarta Timur itu, tersedia 250 alat peraga yang bisa disentuh, dipegang, dan dimainkan. Peraga disiapkan untuk anak-anak dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) yang lebih hebat lagi disana disediakan lembar kerja sains yang akan memandu anak-anak untuk belajar ilmu pengetahuan dan teknologi agar lebih terarah dan intensif. Beberapa alat peraga menantang, misalnya sepeda layang, roket air, try science, generator van de graft, dan simulator gempa bumi.

Kegiatan yang ditawarkan kepada pengunjung beragam dan disesuaikan dengan sasaran: untuk tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Umum (SMU), dan keluarga; meliputi sanggar kerja dan demo ilmu pengetahuan dan teknologi, pelatihan perancangan alat peraga, science fair, pelatihan proses Ilmu Pengetahuan Alam, pelatihan peduli lingkungan hidup, science camp, peneropongan bintang, aneka lomba kreatifitas dan kuis, dan lomba perancangan alat peraga.

Di samping itu pengunjung bisa menyaksikan film-film ilmiah yang diputar di ruang auditorium berkapasitas tempat duduk 130 orang untuk menambah ilmu pengetahuan yang menghibur dan dapat memahami sains dengan cara yang mudah dan menyenangkan. Pusat Peragaan IPTEK tidak hanya menyediakan sarana untuk penduduk Jakarta dan sekitarnya, melainkan juga memiliki program kegiatan outreach ke mal dan pusat keramaian, desa, sekolah, dan daerah dengan membawa peralatan peraga yang bersifat portable.

Sungguh suatu hal yang akan menumbuhkan kecintaan generasi penerus kita karena mereka akan lebih mengenal bangsanya, sekaligus memacu prestasi anak bangsa, dan pada akhirnya anak-anak kita tidak terbatas hanya sipengguna, tapi merekalah yang kelak mengubah dunia

Share on Google Plus

About Sofyan Saori

Saat lenggang; Seringkali nyender di kursi butut, browsing, liat2 status di medsos, nyruput kopi hitam dan nyalain sesuatu
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Apapun dan bagaimanapun komentar yang anda tulis, merupakan bentuk apresiasi terhadap apa yang saya tulis. dan saya sangat menghargainya